Kesalahan Umum dalam Mengelola Kertas Bekas
18/09/2025 | ArtikelKertas bekas sering dianggap remeh, padahal jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat ekonomi maupun lingkungan. Sayangnya, banyak orang maupun instansi masih melakukan kesalahan dalam menangani kertas bekas. Akibatnya, potensi daur ulang hilang begitu saja dan justru menambah masalah sampah. Berikut adalah 10 kesalahan umum dalam mengelola kertas bekas yang sebaiknya dihindari.
1. Mencampur Kertas dengan Sampah Basah
Kesalahan paling umum adalah mencampur kertas bekas dengan sisa makanan atau minuman. Kertas yang lembap dan kotor sulit didaur ulang.
2. Tidak Melakukan Pemilahan
Semua jenis kertas disatukan begitu saja. Padahal, kertas koran, kardus, dan kertas HVS punya nilai daur ulang berbeda.
3. Membakar Kertas Bekas
Membakar kertas dianggap cara cepat mengurangi sampah, padahal asapnya mencemari udara dan berbahaya bagi kesehatan.
4. Menyimpan Terlalu Lama hingga Rusak
Kertas yang ditumpuk tanpa pengelolaan bisa lembap, berjamur, bahkan hancur, sehingga tidak bisa dijual atau diolah kembali.
5. Menggunakan Kertas Sekali Pakai Tanpa Pertimbangan
Banyak kantor atau sekolah masih boros kertas karena mencetak dokumen tanpa memaksimalkan sisi belakang atau file digital.
6. Tidak Memanfaatkan Bank Sampah atau Pengepul
Kertas bekas sering langsung dibuang ke TPA. Padahal, bank sampah atau pengepul siap menyalurkannya ke industri daur ulang.
7. Menganggap Kertas Bekas Tidak Bernilai
Kesalahan besar adalah berpikir bahwa kertas bekas hanyalah sampah. Padahal, ada banyak produk bernilai yang bisa dihasilkan dari kertas bekas.
8. Kurangnya Edukasi di Lingkungan Kerja dan Sekolah
Tanpa kesadaran bersama, kertas bekas akan terus terbuang percuma. Edukasi sangat penting untuk menciptakan budaya hemat dan daur ulang.
9. Tidak Memanfaatkan Teknologi Digital
Masih banyak yang lebih suka mencetak dokumen fisik padahal bisa disimpan secara digital, sehingga jumlah kertas bekas semakin menumpuk.
10. Mengabaikan Potensi Bisnis dari Kertas Bekas
Banyak orang tidak menyadari bahwa kertas bekas bisa menjadi modal bisnis ramah lingkungan, mulai dari kerajinan hingga kertas daur ulang.